a. lebih besar, dan dinilai sangat membantu dalam

a.      
Jumlah Dewan Komisaris terhadap Audit Report lag

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
33 /POJK.04/2014 tentang  Direksi dan
Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik menyatakan bahwa susunan dewan
komisaris perusahaan paling sedikit terdiri dari 2 (dua) orang anggota dewan
komisaris. 

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Penelitian yang dilakukan oleh Imen (2016) menyetujui
bahwa semakin banyak jumlah dewan dalam perusahaan akan mampu meningkatkan
pengawasan dan kontrol terhadap perusahaan. Jumah dewan yang semakin banyak
cenderung meningkatkan kinerja perusahaan dengan memberikan kontrol yang lebih
besar, menyediakan sumber daya yang lebih besar, dan dinilai sangat membantu
dalam menghindari ketidakpastian, (Singh, Mathur, & Gleason, 2004). Berbeda dengan Hassan (2013) yang memiliki pendapat
bahwa semakin banyak anggota dewan dapat menciptakan masalah komunikasi dan
koordinasi sehingga efektivitas dan efisiensi pemantauan kinerja perusahaaan.
Selain itu, dewan yang besar dapat mengurangi tingkat partisipasi anggota dan sulit
untuk mencapai kesepakatan (Mak & Li, 2001). Berdasarkan hal tersebut maka dapat dirumuskan
hipotesis:

H1      : Jumlah dewan komisaris
berpengaruh negatif terhadap ARL

b.     
Independensi Dewan terhadap Audit Report Lag

Menurut Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33 /POJK.04/2014 tentang Direksi
dan Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik menyatakan bahwa dalam
hal dewan
komisaris
terdiri dari 2 (dua) orang anggota dewan
komisaris,
1 (satu) di antaranya adalah Komisaris Independen. Dalam
hal Dewan Komisaris terdiri lebih dari 2 (dua) orang
anggota Dewan Komisaris, jumlah Komisaris Independen
wajib paling kurang 30% (tiga puluh persen) dari
jumlah seluruh anggota Dewan Komisaris.

Independensi dewan
dianggap sebagai salah satu faktor penentu utama untuk melindungi kepentingan
investor (Fama, Jensen, Law, & Conference, 1983).
Dewan independen  dapat mengatasi masalah moral
hazard yang timbul dari pemisahan kepemilikan dan kontrol untuk
meningkatkan proses audit (Bliss, 2011).
Carcello, Hermanson, Neal, & Riley Jr. (2002) menyatakan
bahwa dewan independen dapat menjalankan
peran pengawasan mereka secara lebih profesional
dan lebih mendukung auditor eksternal. Dewan yang independen bersedia
mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk memantau, sehingga dapat
mengurangi penilaian auditor terhadap risiko pengendalian yang
memungkinkan auditor untuk membatasi ruang lingkup pekerjaan mereka. Hal
tersebut
mampu
meningkatkan ketepatan waktu audit.  Independensi dewan dapat mempengaruhi sifat,
waktu dan tingkat audit, dan mengarah pada pelaporan yang tepat waktu (Alfraih, 2016). Imen (2016) juga menyetujui bahwa Independensi dewan mampu
mengurangi risiko keterlambatan dalam 
pelaporan keuangan. Berdasarkan hal tersebut
maka dapat dirumuskan hipotesis:

H2       : Independensi dewan
berpengaruh negatif terhadap ARL

c.      
Frekuensi Rapat Dewan terhadap Audit Report lag

Menurut Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan Nomor 33 /POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten
atau Perusahaan Publik menyatakan bahwa Dewan Komisaris wajib mengadakan rapat
paling kurang 1 (satu) kali dalam 2 (dua) bulan. Dewan
Komisaris wajib mengadakan rapat bersama Direksi
secara berkala paling kurang 1 (satu) kali dalam 4
(empat) bulan.

Chan et al. (2016) menyatakan bahwa jumlah rapat dewan direksi dalam
setahun dapat digunakan untuk mengendalikan pengaruh tata kelola perusahaan
pada lag pelaporan audit. Rapat dewan komisaris bertujuan untuk mengawasi
kinerja manajemen dalam melaksanakan tata kelola perusahaan. Sehingga dalam
pengawasan manajemen tersebut dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
Maka semakin banyak rapat dewan komisaris diselenggarakan maka dapat
memperpendek audit report lag, karena semakin banyak informasi yang diterima
oleh dewan komisaris mengenai perkembangan perusahaan. Sejalan dengan Wardhani (2013) yang
menyatakan bahwa semakin sering dewan komisaris bertemu atau mengadakan rapat,
maka fungsi pengawasan terhadap manajemen menjadi semakin efektif. Berdasarkan
hal tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis:

H3       : Frekuensi rapat dewan
berpengaruh negatif terhadap ARL

d.     
Jumlah Anggota Komite Audit terhadap Audit Report Lag

Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan Nomor 55 /POJK.04/2015 Tentang Pembentukan
dan
Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit Komite Audit paling sedikit terdiri dari 3
(tiga) orang anggota yang berasal dari Komisaris Independen dan Pihak dari luar
Emiten atau Perusahaan Publik. Komite Audit harus diketuai oleh salah satu
Komisaris Independen.

Penelitian yang dilakukan oleh Afify (2009) menunjukkan bahwa
keberadaan komite audit berpengaruh positif dalam mempersingkat penundaan
audit. Menurut Naimi Mohamad-Nor et al. (2010) semakin banyak jumlah komite audit maka akan
semakin baik tata kelola dan sistem pengawasan terhadap keuangan perusahaan. Hashim & Abdul Rahman (2011) juga mengungkapkan bahwa komite audit yang efektif
penting untuk mengurangi waktu audit. Oleh karena itu, sangat masuk akal untuk
apabila keberadaan komite audit akan memastikan ketepatan waktu informasi yang
dilaporkan. Berdasarkan hal tersebut maka dapat
dirumuskan hipotesis:

H4      : Jumlah Anggota komite audit
berpengaruh negatif terhadap ARL

5.       
Reputasi Auditor Terhadap Audit Report Lag

Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa perusahaan audit Big-4 lebih dapat diandalkan dan menjunjung
tinggi ketepatan waktu (Afify, 2009; Leventis et al., 2005).
Selain itu, beberapa penelitian empiris menekankan adanya hubungan yang
signifikan antara ketepatan waktu dan adanya hubungan  kerja yang terjalin cukup lama antara auditor
dengan perusahaan (Habib & Bhuiyan, 2011).
Hal tersebut dinilai menguntungkan auditor karena auditor mampu menghemat waktu
dengan adanya pengalaman dalam mengaudit klien tersebut. Auditor eksternal
dengan kualitas tinggi lebih mampu untuk menyelesaikan misi audit dan
memaksimalkan kemampuannya agar dapat melakukan pengungkapan secara tepat waktu
(Afify, 2009). Dengan demikian,
hipotesis berikut dapat dirumuskan:

H5     :
Reputasi Auditor berpengaruh negatif terhadap ARL