Kerugian antara pihak yg satu dengan pihak

Kerugian
terjadinya dulisme atau dua kepengurusan dalam sebuah instansi atau suatu
organisasi yaitu;

1.      Tugas
dan kewajiban menjadi terabaikan atau tidak maksimal dalam menjalankannya
karena terjadinya konflik internal dalam sebuah instansi atau sebuah organisasi

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

2.      Visi
dan misi serta tujuan dalam sebuah instansi atau suatu organisasi menjadi tidak
jelas karena kedua belah pihak memiliki pandangan atau pemikirannya sendiri –
sendiri sehingga kemungkinan tidak terjadi sebuah keselarasan ataupun
bertentangan dalam visi dan misi serta tujuan antara pihak yg satu dengan pihak
yg lainnya

3.      Terjadinya
konflik berkepanjangan antara pihak yg satu dengan pihak lainnya tanpa adanya
solusi yg tepat untuk mengatasinya

4.      Munculnya
persaingan antara pihak yg satu dengan pihak yg lainnya untuk menjadi nomor
satu dan menjadi pihak yg memiliki kewenangan tertinggi di dalam sebuah
instansi atau suatu organisasi serta menjadi pengurus yg diakui dimata masyarakat

5.      Kepercayaan
masyarakat pada sebuah instansi atau suatu organisasi yg memiliki dualisme atau
dua kepengurusan menjadi menurun karena masyarakat tidak yakin instansi atau
organisasi tersebut dapat menjalankan tugas ataupun kewajibannya dengan baik.

Dualisme dapat muncul
karena ketidakpuasan sebagian anggota dalam sebuah instansi atau suatu
organisasi terhadap kepemimpinan serta keputusan yg dibuat oleh pemimpinnya
sehingga sebagian anggota tersebut lebih memilih membentuk kepengurusan baru
untuk menandingi  kepengurusan yg
sekarang berjalan. Dualisme dapat terjadi pada instansi atau organisasi apapun
termasuk agama, ras, budaya, suku, dll.

tidak hanya dalam
sebuah instansi atau suatu organisasi saja dualisme dapat terjadi. tapi
dualisme dapat juga terjadi di dalam kehidupan masyarakat seperti saat pemilu
masyarakat tentunya memiliki pandangan atau pemikiran yg berbeda – beda karena
setiap masyarakat memiliki kriterianya masing – masing sehingga ini akan dapat
memunculkan dualisme antara pendukung pasangan calon yg satu dengan pasangan
calon yg lainnya.

Karakteristik
dualisme dalam sebuah instansi atau suatu organisasi yaitu;

1.      Terdapat
dua kubu dimana kedua kubu tersebut memiliki keadaan yg berbeda salah satu kubu
memiliki keadaan yg bersifat superior (mendominasi atau kedudukannya kuat) dan
salah satu kubu lagi memiliki keadaan yg bersifat inferior (tidak mendominasi
atau kedudukannya lemah) tapi dapat hidup berdampingan pada tempat serta waktu
yg sama.

2.     
Perbedaan keadaan
tersebut tidak hanya sementara tapi berlangsung terus menerus selama masih
terjadinya dualisme atau dua kepengurusan dalam sebuah instansi atau suatu
organisasi tersebut

3.      Pihak
yg keadaannya bersifat superior akan terus meningkat dan semakin medominasi
atau kedudukannya semakin kuat sedangkan pihak yg inferior akan terus menurun
dan kedudukannya akan semakin lemah di dalam sebuah instansi atau suatu
organisasi tersebut.

Dualisme dapat
dikatakan penuh dengan hal – hal negative yg dapat mengganggu keberlangsungan
atau jalannya sebuah instansi atau suatu organisasi karena saat terjadi
dualisme para pengurus serta para anggota yg ada di dalamnya akan saling
menejelekkan serta saling menjatuhkan satu sama lain demi mendapatkan kedudukan
tertinggi di instansi atau organisasi tersebut. dan juga dengan adanya dualisme
dapat memecah belah orang – orang yg ada di sebuah instansi atau suatu
organisasi tersebut sehingga yg terjadi hanya ada konflik dan permusuhan
berkepanjangan yg sulit untuk mendapatkan solusinya.

Cara
untuk mengataasi terjadinya dualisme atau dua kepengurusan dalam sebuah
instansi atau suatu organisasi yaitu; 

1.      Melakukan
perundingan atau musyawarah antara kedua belah pihak untuk mencari solusi yg
terbaik

2.     
 menyamakan visi dan misi serta juga tujuan
bersama dari kedua belah pihak dan menjalankan sebuah instansi atau suatu
organisasi secara bersama – sama tanpa adanya dua kepengurusan atau dualisme

3.      Melakukan
perjanjian yg sama – sama menguntungkan kedua belah pihak agar tidak terjadi
dualisme atau dua kepengurusan lagi di masa yg akan datang

Studi
kasus terjadinya dualisme yaitu;

·       
Pada tahun 2011 terjadi
insiden dualisme di persepakbolaan Indonesia lebih tepatnya pada induk
organisasi sepakbola Indonesia yaitu PSSI pada tahun tersebut kepengurusan PSSI
terbelah menjadi dua atau terjadi dualisme kepengurusan akibat adanya
kekisruhan atau konfik internal di dalam PSSI sehingga terbentuk dua asosiasi
yaitu PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) dan KPSI (Komite Penyelamat
Sepakbola Indonesia). KPSI menyatakan secara sepihak mengambil alih kewenangan
PSSI ini terjadi karena PSSI membentuk atau membuat liga baru yaitu liga primer
Indonesia (LPI) yg tidak disetujui oleh beberapa pihak. Ini berawal dari konflik
internal di dalam PSSI Sehingga induk organisasi sepakbola dunia FIFA meminta
PSSI untuk melakukan kongres pemilihan atau disebut juga dengan kongres luar
biasa namun kongres tersbut dibatalkan di tengah jalan karena keadaan yg tidak
kondusif dimana terdapat sekelompok orang yg masuk ke dalam kongres dan
mengacaukan kongres tersebut. akhirnya dibentuklah komite normalisasi PSSI
namun FIFA memutuskan untuk merombak atau mengganti beberapa anggota komite
normalisasi karena menurut FIFA anggota yg diganti tersebut tidak netral dan
lebih memihak pada salah satu pihak yaitu liga primer Indonesia. Setelah
melakukan beberapa kali kongres dan negosiasi yg alot akhirnya terbentuk
kepengurusan baru dari PSSI. dan PSSI mulai menjalankan tugasnya dengan
membentuk sebuah kompetisi dengan melakukan beberapa kongres akahirnya PSSI
menetapkan membentuk kompetisi baru yaitu liga primer indonesia namun keputusan
tersebut memecah komite menjadi dua ada yg pro dan juga ada yg kontra. akhirnya
pihak PSSI menunjuk PT. liga prima Indonesia sportindo (LPIS) sebagai operator
resmi IPL namun komite yg kontra terhadap keputusan PSSI tersebut akhirnya
membentuk kompetisi sendiri yaitu Indonesia super league (ISL) dimana PT. liga
Indonesia (LI) sebagai operator resminya. Keadaan diperparah dengan hadirnya
KPSI tidak hanya ada dua kepengursan atau dua kompetisi saja tapi juga ada dua
timnas dari masing – masing kubu. akhirnya kedua belah pihak melakuakan kongres
luar biasa guna menyelesaikan masalah tersebut Setelah melalui proses yg sangat
panjang akhirnya  masalah dualisme yg
terjadi di PSSI dapat terselesaikan dan kini hanya ada satu induk organisasi
sepakbola Indonesia yaitu PSSI.