Kondisi baca rakyat Indonesia pada era globalisasi

Kondisi
Literasi Remaja Indonesia

Salah
satu problematika yang secara nyata masih menjadi pekerjaan rumah tangga bagi dunia
pendidikan Indonesia adalah adalah literasi bagi seluruh rakyat yang terdapat
pada indikator ke-38 dalam kajian sektor SDGs (Sustainable Development Goals/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan)
hasil terbitan Badan Pusat Statistik pada bulan Juli tahun 2014. Urgensi
terkait kondisi ini terlihat pada data yang diterbitkan oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and
Cultural Organizations) pada tahun 2012 bahwa minat baca di Indonesia hanya
berjumlah 0,001%. Tidak hanya UNESCO, Sofie Dewayani (2017: 10) menuliskan
bahwa telah dilakukan uji pemahaman terhadap tes bacaan oleh PISA (Programme for Student Assesment) yang
diselenggarakan bagi para negara anggota OECD tahun 2012. Hasil tes tersebut menempatkan
siswa Indonesia pada peringkat 64 dari 65 negara yang berpartisipasi. Survei
lanjutan mengenai hal terkait juga diadakan oleh Central Connecticut State
University pada tahun 2016 tentang perilaku literat dan menunjukkan hasil yang
tidak jauh berbeda.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Fakta-fakta
di atas menggambarkan betapa rendahnya minat baca rakyat Indonesia pada era globalisasi
yang sedang terjadi, dimana semua orang secara tidak langsung ‘dituntut’ untuk
terus berkembang mengikuti zaman. Keadaan tersebut yang seharusnya disayangkan
ketika pengguna internet Indonesia mencapai angka 132,7 juta orang pada tahun
2016 (hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) dan lebih
dari 75% diantaranya berusia 10-34 tahun. Selaras dengan jumlah tersebut, pada
tahun sebelumnya Kemenkominfo Republik Indonesia sendiri menyatakan bahwa 80%
pengguna internet Indonesia adalah remaja yang berusia 15-19 tahun. Ini
menandakan bahwa potensi penggunaan internet di kalangan pelajar dapat membawa
dampak signifikan bagi perubahan bangsa utamanya perbaikan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM) yang tidak sekedar melek huruf, namun juga melek teknologi.

Melihat dan memahami keadaan bangsa,
pemerintah tidak tinggal diam dan segera mencanangkan program dalam dunia
pendidikan untuk menanggulangi problematika tersebut. Berbagai upaya telah
dilakukan untuk meningkatkan minat pemuda yang dalam konteks ini semuanya
mengacu kepada pemuda sebagai siswa Indonesia. Program bernama Gerakan Literasi
Sekolah (GLS) yang telah ditetapkan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Permendikbud) No.23 Tahun 2015. Dalam GLS sendiri,
aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menunjang literasi sangat beragam.
Contoh dari aktivitas dalam implementasi GLS antara lain : membaca buku
nonpelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai, memberikan tanggapan
kepada buku pengayaan yang dibaca, hingga meningkatkan literasi dengan mampu
menciptakan sebuah karya yang berkualitas dalam bentuk tulisan maupun membentuk
zona-zona di sekolah yang tidak hanya terfokus pada perpustakaan saja sebagai
area literasi.

Namun
pada realisasinya, siswa dan GLS tidaklah berjalan secara berkesinambungan
akibat beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya optimalisasi penggunaan
internet sebagai sarana literasi atau sebagai sumber bahan bacaan. Para siswa
masih kerap kali menggunakan internet dan sosial media hanya untuk hal-hal yang
bersifat menghibur namun kurang mendidik. Penggunaan internet seringkali
terfokus pada kegiatan sosial dalam sosial media, maupun kegiatan lain seperti game online dan menonton berbagai
hiburan seperti film, video pendek dan lain sebagainya. Tidak hanya penggunaan
internet saja , namun paradigma yang berbeda di antara guru dan siswa juga menjadi
hambatan bagi guru untuk secara sempurna melaksanakan GLS. Di satu sisi, siswa
menjadi kurang tertarik membaca buku nonteks pelajaran yang kini dipandang
konvensional sebagai materi baca karena sifatnya yang kurang praktis ataupun
isinya yang sudah lagi tidak mampu menarik minat baca para siswa dan di sisi
lain masih banyak guru yang beranggapan bahwa buku nonteks pelajaran dalam
bentuk hardcopy (buku tercetak)
adalah efektif sedangkan internet termasuk sosial media merupakan sarana yang
kurang penting bagi edukasi para siswa. Padahal, bagian inilah yang kemudian
dapat dimanfaatkan oleh para guru sebagai komponen GLS dan siswa sebagai pemuda
bangsa agar dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan penggunaan internet maupun
media sosial sebagai sarana penunjang GLS yang fleksibel dengan perkembangan
era globalisasi.