The competing each other to form regionalism or

The condition of
international relations has changed significantly after Cold War era. The
polarization is no longer bipolar, but multipolar. Thus, makes the countries in
the world are competing each other to form regionalism or we can call it a
regional organization, in their own region. But the fact that there is an
absence of regionalism in East Asia region raises the question whether the
trend of regionalism in this century did not affect East Asian region, and also
encourage them to form regionalism in which regional organizations are believed
to be able to accommodate all the interest that each country in the region has.
Using the method of quantitative approach which has detail and specific
characteristics, the writer trying to explain what factors that prevent the
formation of regional organization in East Asia region and predicting the
prospect regionalism in East Asia region .

Keyword:
regionalism, organization, East Asia region

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Pendahuluan

Tidak
ada definisi yang pasti mengenai region,
regionalism, dan regionalization, sehingga dalam hal ini seringkali menimbulkan
perdebatan. Walaupun demikian dapat dipahami bahwa dari ketiga hal tersebut
memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Region
yang berarti kawasan merupakan sebuah wilayah yang didalamnya terdiri lebih
dari dua negara yang saling berinteraksi dan mendefinisikan batasan (boundaries) yang dimiliki berdasarkan
persamaan identitas, seperti etnis, bahasa, sejarah, budaya dan lainnya. Suatu
kawasan tidak hanya didefinisikan pada persamaan akan letak geografis yang
dimiliki oleh suatu negara dengan negara yang lain. Regionalisme dapat
dikatakan sebagai bentuk kerjasama yang dilembagakan antara negara-negara dan
aktor lainnya yang didasarkan pada kedekatan regional. Sedangkan regionalisasi
merupakan sebuah proses yang kemudian meningkatkan interdependensi yang
dimiliki suatu negara dengan negara yang lainnya akibat dari adanya
regionalisme.

Keadaan
hubungan internasional telah berubah secara signifikan pasca Perang Dingin,
serta adanya semangat dekolonisasi yang kemudian mendorong baik negara maju dan
negara berkembang untuk semakin mempertegas kembali eksistensi atau
keberadaannya dalam sistem internasional.1
Polarisasi yang ada tidak lagi bersifat bipolar dimana dunia hanya berfokus
pada dua kekuatan besar seperti yang terjadi pada saat Perang Dingin, melainkan
bersifat multipolar. Hal ini juga yang kemudian membuat negara-negara
berlomba-lomba untuk saling membentuk regionalisme di kawasannya. Munculnya
regionalisme dapat dilihat dari dua sisi, yaitu ekternal dan internal. Dari
sisi ekternal, munculnya regionalisme merupakan sebuah respon dari adanya
globalisasi, sedangkan dari sisi internal, regionalisme muncul sebagai akibat
dari dinamika yang terjadi di dalam kawasan. Adanya persamaan sejarah dan
semangat dekolonisasi mendorong mereka untuk kemudian membentuk sebuah
regionalisme.2

Menurut
Edward D. Mansfield dan Helen V. Milner, perkembangan regionalisme terbagi ke
dalam empat gelombang. Gelombang pertama terjadi di era tahun 1800-an hingga 1900-an
yang ditandai dengan adanya pemusatan atau sentralisasi aktivitas di kawasan
Eropa. Aktivitas yang ada kebanyakan merupakan aktivitas ekonomi, yang mana hal
ini dibuktikan dari adanya peningkatan aktivitas perdagangan di dalam kawasan
Eropa (intra-European trade). Gelombang
kedua yang ditandai dengan adanya great
depression yang memberikan efek kepada krisis di Eropa hingga memunculkan
kebijakan proteksionisme. Gelombang ketiga ditandai dengan adanya peningkatan
perdagangan internasional, utamanya yang terjadi di Eropa Barat dan Asia Timur
serta muncul beberapa blok perdagangan selama masa ini berlangsung. Gelombang
keempat regionalisme ditandai dengan adanya kerjasama yang terjadi antara
negara maju dan negara berkembang, serta penguatan kerjasama multilateral.3
Sedangkan menurut Louise Fawcett, pembagian perkembangan regionalisme hanya
terbagi menjadi dua bentuk yaitu regionalisme lama (old regionalism) dan regionalisme baru (new regionalism). Regionalisme lama ditandai dengan aktivitas
kerjasama regional yang dilakukan oleh negara-negara dengan level yang sama
yang berorientasi ke dalam atau inward
looking dan dibentuk melalui proses politik. Sedangkan regionalisme baru
dibentuk melalui proses ekonomi yang dilakukan oleh negara dengan variasi level
yang berbeda dan berorientasi keluar atau outward
looking.4

Perkembangan
regionalisme pada dasarnya terjadi di seluruh penjuru dunia. Hal ini dibuktikan
dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi di tingkat kawasan (region) seperti European Union (EU), Association
of Southeast Asian Nations (ASEAN), South Asian Association for Regional
Cooperation (SAARC), Arab
League, dan sebagainya. Namun yang membuat menarik adalah kenyataan bahwa
di kawasan Asia Timur tidak terdapat organisasi regional yang kemudian
diharapkan dengan adanya organisasi regional dapat mengakomodir
kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh masing-masing negara yang tergabung
dalam satu kawasan. Sehingga hal tersebut menimbulkan pertanyaan apakah
pembentukan organisasi regional yang saat ini tengah menjadi tren tidak dapat
mendorong terciptanya regionalisme di kawasan Asia Timur. Dalam tulisan ini penulis
akan mencoba menjelaskan faktor apa saja yang menghambat pembentukan
regionalisme di kawasan Asia Timur, sekaligus memprediksi prospek yang dimiliki
kawasan Asia Timur dalam kaitannya mengenai pembentukan regionalisme.

Metode

            Dalam
tulisan ini, penulis memilih untuk menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan
kuantitatif ini bersifat spesifik, jelas serta rinci, sehingga dirasa cocok digunakan
untuk menjelaskan hal-hal apa saja yang menjadi faktor penghambat dalam
pembentukan regionalisme di kawasan Asia Timur melalui pemaparan data-data yang
diperoleh . Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi pustaka, dimana
data dan informasi yang diperoleh berasal dari buku, dokumen, jurnal, atau
penelitian terdahulu yang mana sumber yang didapat berupa sumber yang valid dan
dapat dipertanggungjawabkan. Serta dengan dilakukan proses analisis data oleh
penulis.

Pembahasan

            Secara geografis kawasan Asia Timur
atau East Asia merupakan kawasan yang
sangat luas, yang didalamnya terdiri dari Cina, Jepang, dan Korea. Korea sendiri
terbagi menjadi dua bagian yaitu Korea Utara dan Korea Selatan. Terjadinya
pemisahan wilayah tersebut juga tidak terlepas dari pengaruh konflik ideologi
dalam Perang Dingin pada saat itu. Nuansa yang timbul di dalam kawasan Asia
Timur yang bersifat konfliktual juga dipengaruhi oleh persepsi yang dimiliki
oleh masing-masing negara yang berada di kawasan, yang mana antara negara satu
dengan yang lainnya saling melihat keberadaan akan negara lain sebagai sebuah
ancaman. Hal ini dapat diambil contoh dari kebangkitan Cina sebagai kekuatan
besar yang ada di kawasan Asia Timur, utamanya dalam bidang perekonomian,
membuat hal tersebut dianggap sebagai ancaman oleh negara lain seperti Jepang,
dan Korea Selatan, terlebih bagi Korea Utara yang perekonomiannya dapat dikatakan
jauh tertinggal dibandingkan dengan tiga negara tersebut. Selain adanya ancaman
dalam bidang ekonomi, di kawasan Asia Timur juga didapati ancaman dari segi
keamanan. Kepemilikan nuklir oleh Korea Utara menjadikan negara lain di kawasan
ini menjadi sangat waspada.

Berdasarkan
data World Bank pada tahun 2016, jumlah 
populasi Cina tercatat sebesar 1,379 miliar dengan total GDP (Gross Domestic Product) sebesar 11,20
triliun US$.5
Pada tahun 2016 juga jumlah populasi Jepang tercatat sebesar 126,994 juta jiwa
dengan total GDP sebesar 4,9 triliun US$.6
Pada tahun 2016 jumlah populasi Korea Selatan tercatat sebesar 51,246 juta
dengan total GDP sebesar 1,4 triliun US$.7 Sedangkan
Korea Utara memiliki jumlah populasi yang tercatat sebesar 25,369 juta jiwa.8
Dengan total populasi dan total GDP yang dimiliki oleh masing-masing negara
tersebut, apabila digabungkan akan menjadi salah satu kekuatan bagi kawasan
Asia Timur untuk dapat eksis dalam sistem internasional, serta berpotensi besar
untuk menggerakkan kehidupan utamanya dalam bidang ekonomi. Hal ini tentunya
akan sangat menguntungkan bagi pasar di kawasan Asia Timur.

Pada
dasarnya  negara-negara di kawasan Asia
Timur ini telah membentuk kerjasama dalam bentuk trilateral cooperation. Sesuai dengan namanya yaitu trilateral cooperation atau kerjasama
trilateral, kerjasama ini dilakukan oleh tiga negara yang ada di kawasan Asia
Timur, yaitu Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Adanya kerjasama ini juga tidak
terlepas dari keterlibatan peran ASEAN dalam kawasan Asia Timur, yang mana ASEAN
pada saat itu berupaya untuk memperluas cakupannya dengan membuka kerjasama dengan negara non anggota
ASEAN dalam kerangka ASEAN+. Kerjasama trilateral ini pertama kali diluncurkan
dalam ASEAN framework, pada forum
ASEAN+3 yang dilaksanakan pada tahun 1997.9
Dengan adanya kerjasama trilateral ini kemudian dipercaya dapat mengurangi
adanya rasa saling tidak percaya atau mutual
distrust yang menjadikan kawasan Asia Timur bersifat konfliktual, sehingga
seiring dengan menurunnya mutual distrust
maka akan dapat mendorong pembentukan regionalisme di kawasan ini.

            Namun sangat kecil kemungkinan untuk mendorong adanya
pembentukan regionalisme di kawasan Asia Timur. Untuk dapat membentuk
regionalisme di kawasan ini sangatlah sulit, terlebih dengan adanya persepsi
yang dimiliki oleh masing-masing negara yang berada di kawasan, yang mana
antara negara satu dengan yang lainnya saling melihat keberadaan akan negara
lain sebagai sebuah ancaman, baik Cina, Jepang, maupun Korea. Harapan mengenai
terciptanya regionalisme di kawasan ini dengan adanya ASEAN+3 juga dirasa
sangat berlebihan, mengingat yang terlibat dalam penguatan kerjasama ini
hanyalah tiga negara yaitu Cina, Jepang dan Korea Selatan, sedangkan seperti
yang diketahui pada umumnya, terdapat empat negara yang termasuk ke dalam
kawasan Asia Timur. Dengan tidak melibatkan satu negara yang tersisa, yaitu
Korea Utara, seakan-akan negara yang ada di kawasan ini, baik Cina, Jepang, maupun
Korea Selatan berusaha untuk membuat Korea Utara semakin terpinggirkan. Hal ini
juga semakin jelas memperlihatkan bahwa mutual
distrust yang dimiliki oleh negara-negara yang ada di kawasan ini masih
tinggi.

            Padahal mekanisme dari sebuah regionalisme untuk mencegah
adanya konflik adalah dengan menciptakan kerjasama, trust atau kepercayaan dan pemahaman yang sama diantara
masing-masing negaranya.10
Akan tetapi negara-negara di kawasan Asia Timur cenderung belum memiliki
kesiapan atau lebih tepatnya belum ada kemauan akan hal tersebut. Hal ini juga
ditunjukkan dari keluarnya Korea Utara dari Six
Party Talks. Pembentukan Six Party
Talks sebagai sebuah perundingan diharapkan dapat menyediakan sebuah
kerangka bagi kawasan ini untuk melakukan kerjasama multilateral di masa
mendatang. Perundingan ini membicarakan mengenai mekanisme untuk menciptakan
keamanan dan perdamaian di dalam kawasan yang salah satu caranya adalah dengan
melakukan denuklirisasi.11
Akan tetapi keluarnya Korea Utara mengindikasikan sikap yang tidak kooperatif
dan menunjukkan bahwa kawasan ini masih belum memiliki kesiapan dan bahkan
kemauan untuk menjalin kerjasama dengan menciptakan keamanan dan perdamaian di
dalam kawasan.

Kesimpulan

            Tingginya mutual distrust di kawasan Asia Timur, yang dibuktikan dengan
adanya persepsi yang menyebabkan negara satu dengan yang lainnya saling melihat
keberadaan akan negara lain sebagai sebuah ancaman menjadi salah satu faktor
penghambat pembentukan regionalisme di kawasan ini. Selain itu, ketidakpastian
akan keamanan yang ada di kawasan semakin memunculkan rasa enggan diantara
negara-negara kawasan Asia Timur untuk membentuk organisasi regional. Hal ini
dipicu oleh sikap yang tidak kooperatif dari Korea Utara dengan keluar dari six party talks yang mana pembentukan six party talks diharapkan dapat
menciptakan keamanan dan perdamaian di dalam kawasan yang salah satu caranya
adalah dengan melakukan denuklirisasi.

Ditinjau dari faktor penghambat pembentukan
regionalisme di kawasan Asia Timur, yang telah dipaparkan oleh penulis, dapat
dikatakan bahwa negara-negara di
kawasan Asia Timur cenderung belum memiliki kesiapan atau lebih tepatnya belum memiliki
kemauan untuk membentuk sebuah regionalisme. Perjalanan yang diperlukan masih
sangat panjang untuk menciptakan regionalisme di kawasan ini jika mutual distrust yang dimiliki antara
masing-masing negara masih sangat tinggi, dan kemauan akan menyatukan diri
sebagai sebuah kawasan masih belum dimiliki oleh masing-masing negara yang ada
di kawasan ini. Mengenai prospek yang dimiliki kawasan Asia Timur untuk dapat
membentuk regionalisme hanya akan dapat muncul apabila masing-masing negara
yang saling memiliki komitmen untuk mengurangi mutual distrust dan kemauan untuk menyatukan diri sebagai sebuah
kawasan.

1 Louise Fawcett, “Exploring
Regional Domains: A Comparative History of Regionalism,” in Global Politics of Regionalism: Theory and
Practice, ed. Mary Farrell, Björn Hettne and Luk Van Langenhove (London:
Pluto Press, 2005), 28.

2 Mary Farrell, “The Global
Politics of Regionalism: An Introduction,” in Global Politics of Regionalism: Theory and Practice, ed. Mary
Farrell, Björn Hettne and Luk Van Langenhove (London: Pluto Press, 2005), 2.

3 Edward D. Mansfield, Helen V.
Milner, “The New Wave of Regionalism,” International
Organization 53, no. 3 (1999): 596-597.

4 Fawcett, “Exploring Regional
Domains: A Comparative History of Regionalism,” 29-33.

5 The World Bank, Data: Countries
and Economies, China.

6 The World Bank, Data: Countries
and Economies, Japan.

7 The World Bank, Data: Countries
and Economies, Republic of Korea.

8 The World Bank, Data: Countries
and Economies, Democratic People’s Republic of Korea.

9 Justyna Szczudlik-Tatar, “Regionalism in East Asia: A Bumpy Road to Asian
Integration,” The Polish Institute of
International Affairs 64, no. 16 (2013): 5.

10 Ralph A. Cossa, “Northeast Asian
Regionalism: A (Possible) Means to an End for Washington,” Council on Foreign Relations (2009): 2.

11 Cossa, “Northeast Asian Regionalism: A
(Possible) Means to an End for Washington,” 
7.